5 Adab Safar atau Bepergian Jauh dalam Islam

5 Adab Safar atau Bepergian Jauh dalam Islam
5 (100%) 3 votes

Safar

Safar adalah pergi keluar dari rumah untuk melakukan perjalanan yang jauh. Di dalam melakukan safar ada adab-adabnya. Berikut ini beberapa adab safar atau bepergian jauh menurut Islam.

Hendaknya Tidak Sendirian

Makruh bagi seorang muslim yang melakukan perjalanan jauh tanpa teman. Hendaknya ia membawa teman agar ada yang mengingatkan kepada kebaikan dan melarang melakukan maksiat selama perjalanan.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:“Orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah setan, sedangkan orang yang berkendaraan bertiga, maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha, Abu Daud no. 2607, dan At-Tirmidzi no. 1674, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Boleh Menjamak Shalat

Ketika safar, boleh menjamak (menggabungkan) shalat, namun lebih utama untuk tidak dijamak. Shalat yang boleh dijamak adalah shalat Zuhur dijamak dengan shalat Asar, sedangkan shalat Magrib dijamak dengan shalat Isya. Shalat Shubuh tidak bisa dijamak dan harus dikerjakan pada waktunya.

Secara umum, menjamak shalat diperbolehkan ketika sedang dalam kesulitan.

Dari Abdullah bin Abbas ra. Beliau mengatakan: “Rasulullah SAW. menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan menjamak shalat Magrib dengan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan.”(HR. Muslim no. 705)

Dianjurkan Mengqasar Shalat

Ketika safar, mengqasar shalat lebih dianjurkan, yaitu meringkas rakaat shalat.

READ  7 Amalan yang dapat Melancarkan Rezeki

Ibnu Umar ra. Mengatakan bahwa: “Aku biasa menemai Rasulullah SAW. dan beliau tidak pernah menambah shalat lebih dari dua rakaat dalam safar. Begitu juga yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Ustman, ra.” (HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)

Mengqasar shalat dalam safar hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Akan tetapi jika seorang musafir melakukan shalat berjamaah sebagai makmum, sedangkan imamnya adalah seorang yang mukim, maka musafir tersebut tidak boleh mengqasar shalatnya.

Membaca Doa Keluar Rumah

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW. bersabda: “Jika seseorang keluar dari rumahnya kemudian ia membaca“bimillahi tawakkaltu ‘alaihi laa haula walaa quwwata illaa billah” yang artinya dengan menyebut nama Allah, yang tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah, maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberikan petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun pergi menjauh darinya. Kemudian salah satu setan berkata kepada temannya, ‘Bagaimana mungkin kamu mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi oleh Allah.” (HR. Abu Daud no. 5095, At-Tirmidzi no.3426, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Berpamitan kepada Keluarga dan Tetangga

Ketika akan safar, maka dianjurkan untuk berpamitan terlebih dahulu kepada keluarga, tetangga, dan kerabat, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Dari Ibnu Umar ra. berkata: “Biasanya Rasulullah SAW. berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: ‘Astaudi’ullah diinaka wa amaanataka, wa khowaatima amalika’ yang artinya aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu.”(HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud no. 2600, At-Tirmidzi no. 3443)

Tags: