Sumber: keepo.me

G30S/PKI, Sebuah Pemberontakan Kejam yang Pernah Terjadi di Indonesia

Diposting pada
Rate this post
Sumber: keepo.me

G30S PKI

Salah satu pemberontakan terbesar di Indonesia adalah G30S/PKI. G30S/PKI merupakan singkatan dari Gerakan 30 September PKI. Peristiwa ini ternyata masih membekas di hati masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Pemberontakan ini merupakan salah satu pemberontakan kejam.

Dimulai dari suatu malam terakhir di bulan September. Saat banyak orang yang sedang terlelap, ada sekelompok pemberontak yang secara diam-diam mengepung rumah-rumah jenderal. Mereka menangkap para jenderal itu. Orang-orang yang berusaha membantu mengamankan jenderal, banyak yang akhirnya dibunuh di tempat dengan cara ditembak mati.

Para Pahwlawan

Para jenderal itu pun dibawa ke suatu tempat, yang di dalamnya terdapat sumur. Sumur ini nantinya dikenal dengan nama lubang buaya. Di tempat ini, jenderal-jenderal yang belum sepenuhnya mati, dimasukan hidup-hidup hingga mereka mati secara perlahan. Terdapat beberapa nama jenderal yang ditemukan jenazahnya di dalam sumur ini, mereka adalah:

Jenderal Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani ditemukan di Lubang Buaya dengan jenazah penuh dengan luka tembak. Menurut berita yang beredar, ia dibunuh karena menolak usul yang diajukan oleh pasukan pemberontak, yakni mengusulkan untuk pembentukan Angkatan Kelima. Angkatan Kelima adalah sebuah angkatan yang terdiri dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai.

Letnan Jenderal R. Suprapto

Jenderal R. Suprapto diculik dan dibunuh karena menolak usul pembentukan Angkatam Kelima, yang kemudian jenazahnya ditemukan di Lubang Buaya.

Letnan Jenderal M.T. Haryono

Jenderal M.T. Haryono ditembak mati di kediamannya, kemudian jenazahnya di masukan ke dalam truk. Truk itu membawanya ke Lubang Buaya, lalu jenazahnya dimasukan ke dalam sana.

READ  Pengertiam; Cuaca, Iklim dan Unsur – Unsurnya

Letnan Jenderal S. Parman

Pada malam terjadinya pemberontakan, tidak ada penjaga di rumah Parman. Sehingga, para pemberontak dengan mudahnya menyulik Parman di rumahnya yang terletak di Jalan Syamsurizal no. 32, dan membawanya ke lokasi Lubang Buaya.

Mayor Jenderal D.I Pandjaitan

Pada waktu dini hari, pasukan pemberontak memaksa masuk rumah Pandjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia ditembak mati dan mayatnya dibawa ke Lubang Buaya menggunakan truk sama seperti yang lainnya.

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Menurut berita yang beredar, anggota pasuka G30S/PKI membujuk Jenderal Sutoyo dengan berkata bahwa ia (Jenderal Sutoyo) dipanggil oleh Presiden Soekarno. Namun pada kenyataannya, Jenderal Sutoyo digiring ke lokasi lubang buaya, lalu dibunuh di sana.

Kapten Pierre Tendean

Kapten Pierre Tendean dibawa ke lubang buaya lalu dibunuh di sana karena pasukan G30S/PKI mengira bahwa ia adalah AH Nasution.

Selain itu, terdapat beberapa fakta mengejutkan terkait peristiwa G30S/PKI ini. Awalnya, banyak orang mengira G30S/PKI dilakukan oleh pasukan besar. Nyatanya, hanya sekitar 60 orang yang ikut dari kompi Cakrabirawa, dan dari Brigif I hanya 60 orang. Perencanaan yang dilakukan, termasuk persiapan logistik, juga buruk. Hal ini terbukti dengan kegagalan gerakan tersebut.