Hukum Pernikahan Dalam Islam

Diposting pada
Hukum Pernikahan Dalam Islam
5 (100%) 1 vote

Hukum Pernikahan Dalam Islam

Pernikahan merupakan anjuran dari Allah SWT bagi para umat manusia untuk mempertahankan dan juga mengendalikan perkembangbiakan dengan cara yang sesuai serta menurut dengan kaidah dan juga norma yang ada dalam agama. Para laki –laki dan perempuaan memiliki fitrah yang sama yaitu saling membutuhkan satu sama lain. Pernikahan dilakukan untuk mencapai tujuan hidup dari manusia dan juga mempertahankan kelangsungan hidup jensnya. Oleh karena itu nikah merupakan unsur pokok dalam kehidupan manusia yang sempurna dengan karakteristik khusus yang ada dalam islam yaitu bahwa setiap ada perintah yang harus dikerjakan oleh umatnya pasti telah ditetukan oleh agama dan mana didalamnya pasti telah terdapat hikmahnya. Fiqih dari pernikahan adalah ilmu yang akan menjelaskan mengenai syariat dari suatu ibadah atau dalam hal ini adalah pernikahan termasuk didalamnya pengertian, dasar hukum serta tata cara yang berkaitan dengan kelangsungan pernikahan. Beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut.

Pengertian Pernikahan

Pernikahan merupakan salah satu ibadah dalam pergaulan masyarakat agama islam, yang bukan hanya merupakan jalan untuk membangun rumah tangga serta melanjutkan keturunan tetapi pernikahan dianggap pula sebagai jalan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah dan memperluas silahturahmi diantara manusia. Dalam hukum Islam, “Pernikahan” merupakan alih bahasa dari istilah Nikah atau Zawaj yang mana menurut pendapat shahih berarti sebagai akad dan wati/bersenggama sebagai arti kiasan.

Menurut Al –Qur’an dan Hadist, pernikahan berasal dari kata an-nikh dan azziwaj yang berarti melalui, menginjak, menaiki, berjalan diatas dan juga bersenggama atau bersetubuh. Sementara itu berasalkan dari istilah Adh –dhammu memiliki arti merangkum, menyatukan serta mengumpulkan sikap yang ramah. Adapun pernikahan berasal dari kata Aljam’u yang berarti adalah menghipun ataupun mengumpulkan.

READ  5 Adab Safar atau Bepergian Jauh dalam Islam

Beberapa ulama fikih memiliki pandangan sendiri mengenai pengertian dari pernikahan, salah satunya adalah Ulama Hanfiyah mengartikah bahwa pernikahan adalah suatu akad yang membuat seorang laki –laki dapat memiliki dan menggunakan perempuan termasuk seluruh anggota badannya untuk mendapatkan sebuah kepuasan. Pendapat lain adalah menurut ulama Syafiiyah yakni pernikahan adalah menyebabkan pasangan mendapatkan kesenangan. Menurut Saleh Al Utstaimin, pernikahan merupakan pertalian dari hubungan antara laki – laki dan perempuaan dengan maksud adalah agar masing – masing dapat menikmati satu sama lain untuk membentuk suatu keluarga yang saleh dan juga membangun masyarakat yang bersih.

Dasar Hukum Pernikahan

Dalam pandangan islam pernikahan selain merupakan suatu ibadah juga merupakan sunnah Allah dan juga sunah Rasul-Nya. Sebagai sunnah Allah pernikahan merupakan qudrat dan irodat Allah dalam penciptaan alam semesta. Adapun dibawah ini adalah dasar hukum dari pernikahan berdasarkan pada Al –Qur’an dan Hadist:

Pada surat An-Nuur ayat 32 disebutkan:

“Dan kawinkanlah orang –orang yang sendirian diantara kamu dan orang –orang yang layak (berkawin) dari hamba –hamba sahayamu yang lelaki dan hamba –hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Surat An-Nisaa’ ayat 1 :

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakan laki –laki dan perempuan yang banyak dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (periharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Surat Ar-Ruum ayat 21:

READ  Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Kehidupan Sehari-hari

“Dan di antara tanda –tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri –isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar –benar terdapat tanda –tanda bagi kaum yang berfikir.”

Surat Yasin ayat 36:

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang –pasangan semuanya. Baik dari apa yang dikeluarkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”

Hukum Pernikahan

Hukum dilakukannya pernikahan, yaitu sebagai berikut:

  • Wajib : penikahan wajib adalah pernikahan bagi mereka yang telah memiliki kemauan dan kemampuan untuk membangun rumah tangga yang sakinah serta apabila dia tidak melakuannya dikhawatirkan akan tergelincir kedalam perbuatan zina.
  • Sunnah : pernikahan sunnah bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk menikah akan tetapi apabila tidak menikah ia tidak akan tergelincir kedalam perbuatan zina.
  • Makruh : apabila telah memiliki kemampuan untuk menikah dan mampu untuk menahan diri dari zina tetapi tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menikah ditakutkan akan menimbulkan mudarat yakni salah satunya dalah mentelantarkan anak dan istri sehingga hukumnya adalah makruh.
  • Mubah : pernikahan dikatakan mubah apabila seseorang hanya menikah memiliki kemampuan untuk menikah dan mampu menghindarkan diri dari zina dan hanya menikah karean untuk kesenangan semata.
  • Haram : pernikahan haram apabila seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menikah dikhawatirkan apabila menikah akan menelantarkan istri atau tidak dapat memenuhi kewajiban dari suami terhadap istri dan juga sebaliknya. Pernikahan juga haram bagi pernikahan antar mahram atau pernikahan sedarah.

Rukun dan Syarat Pernikahan

Pernikahan dikatakan sah apabila rukun dan syarat dari pernikahan terpenuhi dan sesuai dengan yang telah ditentukan oleh agama, adapun rukun dan syarat pernikahan adalah sebagai berikut.

READ  Sifat-Sifat Wajib Bagi Allah SWT

Rukun Nikah

  1. Calon Pengantin Laki –laki
  2. Calon Pengantin Perempuan
  3. Wali dari pihak mempelai perempuan
  4. Dua orang saksi laki –laki
  5. Ijab kabul

Syarat Nikah

  1. Calon Mempelai Nikah, syaratnya:
  • Beragama Islam
  • Berjenis kelamin laki – laki atau perempuan tertentu
  • Bukan laki –laki atau perempuan mahram
  • Ada orangnya atau jelas identitasnya
  • Setuju untuk menikah
  • Tidak memiliki halangan untuk menikah
  1. Wali dan Saksi Nikah, syaratnya:
  • Laki –laki (minimal 2 lelaki untuk saksi)
  • Dewasa
  • Mempunyai hak perwalian atas mempelai perempuan (Wali nikah)
  • Beragama Islam
  • Berakal sehat
  • Tidak sedang berihram haji atau umrah
  • Hadir dalam proses ijab qobul
  1. Syarat ijab qobul yang sah:
  • Sah apabila dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh kedua belah pihak baik oleh pelaku akad dan penerima akad serta saksi pernikahan. Ucapan dari akad harus jelas dan dapat didengan oleh para saksi.