Jepang, Penjajah dengan Waktu yang Paling Singkat di Indonesia

Diposting pada
Jepang, Penjajah dengan Waktu yang Paling Singkat di Indonesia
5 (100%) 1 vote

Indonesia

Dari beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia, ternyata Jepang lah yang menjajah Indonesia dengan waktu yang paling singkat, yaitu sekitar 3,5 tahun lamanya. Walau begitu, penjajahan Jepang dikenal sebagai penjajahan yang paling membuat bangsa Indonesia menderita. Bagaimana bisa? Simak pembahasannya berikut ini.

Sebelum mendatangi Indonesia

Sebelum datang ke Indonesia, Jepang mengebom Pearl Harbor, sebuah pangkalan Angkatan Laut terbesar Amerika di Samudera Pasifik pada tanggal 8 Desember 1941. Tjarda van Starkenborgh, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pun marah, lalu menyatakan perang terhadap Jepang.

Kemudian, pada tanggal 11 Januari 1942, Jepang mendarat di Tarakan Kalimantan Timur, berusaha menguasai Indonesia dengan membuat Komandan Belanda yang menjaga di sana menyerah.

 Saat datang di Indonesia

Saat datang di Indonesia, Jepang memberikan kesan bahwa mereka adalah saudara jauh Indonesia yang akan membantu bangsa Indonesia merah kemerdekaannya. Sehingga, banyak masyarakat Indonesia yang menerimanya dengan baik.

Tujuan datang ke Indonesia

Tujuan Jepang datang ke Indonesia adalah mereka ingin menaklukan wilayah Indonesia yang kaya sumber daya alam untuk keperluan perang; sebagai pasar bagi produk buatan Jepang; dan untuk mendapatkan sumber daya manusia yang dapat membantu Jepang dalam peperangan.

Untuk menyukseskan tujuannya, Jepang mendirikan sebuah organisasi pada tanggal 16 April 1943 bernama Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Tugas Putera adalah untuk merekrut pekerja dan menggalang dukungan terhadap pemerintahan Jepang.

READ  Sejarah Dunia, Orang Yang Paling Berpengaruh Sepanjang Masa

Cara mereka memperlakukan rakyat Indonesia

Orang-orang yang direkrut, dikirim untuk bekerja secara paksa atau yang dikenal sebagai kerja Romusha. Romusha ini sangat kejam. Pekerja Indonesia banyak yang akhirnya meninggal dunia karena sakit. Dari kesaksian yang ada, mereka yang sakit langsung ditembak mati. Sedangkan yang masih hidup, diperintahkan untuk bekerja dengan upah yang tidak cukup. Contohnya, mereka tidak diberi waktu istirahat, pakaian, makanan, dan tempat tinggal yang layak.

 Selain Romusha, ada juga Jugun Ianfu. Jepang merekrut para wanita dari berbagai negara asia seperti Indonesia, Korea, dan Cina untuk menghibur tentara-tentara Jepang agar mereka tidak merasa kesepian karena meninggalkan keluarga mereka di Jepang sana.

Namun, terlepas itu semua, ternyata Jepang memberikan sistem pendidikan yang berbeda dari masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Jepang memperbolehkan semua kalangan untuk mendapatkan pendidikan, tidak seperti pemerintah Hindia-Belanda yang hanya mengizinkan kalangan atas alias para bangsawan. Dengan demikian, lebih banyak orang terdidik di Indonesia daripada di saat pemerintahan Hindia-Belanda. Tetapi, semua pendidikan yang ada bertujuan untuk membantu kebutuhan perang Jepang.

Kejatuhan Jepang

Organisasi-organisasi yang telah dibentuk oleh Jepang, dan pemberian pendidikan bagi bangsa Indonesia, ternyata menjadi bumerang untuk Jepang sendiri. Rakyat Indonesia sadar bahwa mereka harus memerdekakan Indonesia di tangan rakyat Indonesia sendiri tanpa campur tangan Jepang.

Sehingga, pada saat Jepang kalah dalam Perang Dunia II dalam menghadapi Sekutu, yang ditandai dengan pengebomam Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat, Indonesia mempersiapkan kemerdekaan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Berpura-pura menghadiahkan kemerdekaan

Jepang yang saat itu sudah kalah perang, berusaha meyakinkan rakyat Indonesia dengan menerbangkan Sukarno, Hatta, dan Radjiman Widyoningrat ke Dalat Vietnam pada tanggal 12 Agustus 1945. Di sana, mereka membahas rencana penyerahan kemerdekaan dengan pemimpin militer tertinggi kawasan Asia Tenggara bernama Marsekal Terauchi.

READ  SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA

Marsekal Terauchi merencanakan memberikan kemerdekaan pada Indonesia pada 24 Agustus 1945, dan sampai sekarang belum terpenuhi, karena ia berpikir bahwa dengan waktu yang cukup, mungkin masih bisa membalikan keadaan.

Hingga sekarang, Indonesia dikenal memperoleh kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, bukan karena hadiah Jepang, melainkan karena upaya dari rakyat Indonesia sendiri.