Macam-Macam Najis dan Cara Mensucikannya

Macam-Macam Najis dan Cara Mensucikannya
5 (100%) 1 vote

Kadang kita secara tidak sengaja terkena kotoran hewan ataupun mungkin air kecing manusia dan membersihkannya dengan air atau hanya dengan cukup mencucinya. Memang setelah itu, kotoran tersebut hilang tetapi apakah sudah benar-benar suci pakaian tersebut. Ingat bahwa bersih belum tentu suci tetapi suci sudah pasti bersih. Untuk itu kita sebagai muslim perlu mengetahui dan memahami bab tentang kotoran, najis dan cara mensucikannya. Berikut adalah infromasi tentang macam-macam penggolongan najis dalam Islam berikut cara mensucikannya.

A. Penggolongan Najis

Sebelum mengetahui penggolongan najis-najis dalam Islam maka perlu diketahui arti dari najis tersebut. Najis adalah kotor yang menyebabkan seseorang terhalang untuk beribadah kepada Allah SWT. Berdasarkan bahasa arab, najis adalah kotoran atau jijik. Pengertian najis lainnya adalah menurut Asy Syafi’iyah, sesuatu yang dianggap kotor dan mencegah sahnya sholat tanpa ada yang meringankan. Dari pengertian-pengertian najis di atas berarti bahwa najis apapun itu yang mengenai tubuh atau pakaian kita harus dibersihkan sesuai anjuran dan baru dinyatakan sholatnya sah. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bernajis menghalangi langkah kita untuk beribadah kepada Allah SWT sebelum dilakukan serangkaian syarat pembersihan yang menurut agama Islam.

READ  Niat, Tata Cara dan Doa Melaksanakan Shalat Tahajud

Macam-macam najis menurut dari cara membersihkannya terbagi menjadi tiga, yaitu

1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)

Termasuk najis ringan, diantaranya adalah:

  • Air kencing bayi laki-laki sebelum umur 2 tahun
  • Madzi (air yang keluar, tidak muncrat, dari kemaluan akibat terangsang secara seksual)

2. Najis Mutawassithah (Najis Sedang)

Najis ini terbagi menjadi dua bagian yaitu:

  • Najis Mutawassithah Ainiyah

Najis Mutawassithah yang memiliki wujud atau bentuk dapat terlihat oleh mata kita.

  • Najis Mutawassithah Hukmiyah

Najis Mutawassithah yang bentuk dan bendanya kasat mata (tidak dapat dilihat mata telanjang).

Contoh-contoh dari najis ini adalah kotoran manusia, darah haid, bangkai hewan (kecuali manusia, ikan dan belalang), arak, air mani yang cair dan kotoran hewan yang haram dimakan (kotoran babi, kotoran anjing, dll.

3. Najis Mughallazhah (Najis Berat)

Merupakan najis berat dengan cara mensucikannya yang harus berkali-kali. Contoh dari najis ini adalah sebagai berikut: babi (terkena atau menyentuh), air liur anjing (terkena secara sengaja atau tidak sengaja), hewan-hewan keturunan anjing dan babi.

Selain ketiga najis di atas masih ada satu najis lagi yang disebut dengan najis ma’fu. Ma’fu berarti dimaafkan, najis ma’fu adalah najis yang keberadaannya dimaafkan karena bila terkena najis ini tidak perlu dicuci atau dibasuh dengan air. Contoh dari najis ma’fu ini adalah najis dari bangkai yang tidak mengalirkan darah, keluar darah atau nanah sedikit dari kulit, debu dan air lorong yang memercik tanpa bisa menghindari. Memang benar najis-najis tersebut dimaafkan tetapi alangkah baiknya sebelum melakukan ibadah kita harus mandi atau dalam keadaan suci, bisa dengan berganti pakaian yang bersih tanpa najis tersebut. Ketenangan dalam beribadah adalah utama karena akan mempengaruhi hubungan kita dengan Allah SWT. Dengan bersuci, paling tidak, dapat menghindarkan kita dari keraguan.

B. Cara mensucikan najis berdasarkan penggolongannya

Kotoran atau najis harus dibersihkan dengan tuntas agar kita bisa konsentrasi dalam beribadah tanpa ada pikiran ragu akan kebersihan baju atau kulit kita dari najis tersebut. Rata-rata pembersihan najis-najis di bawah ini adalah menggunakan air dalam percikan, jumlah sedikit hingga jumlah banyak dan berkali-kali. Simak dengan seksama cara-cara membersihkan najis-najis di atas:

READ  Bahaya Lisan yang Harus Dihindari Bagi Setiap Muslim

1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)

Cara membersihkannya adalah cukup dengan dipercikkan air atau dibasuh dengan air pada bagian tubuh yang terkena najis ringan ini. Sebagai catatan, meskipun sudah dibasuh atau diperciki air ternyata masih terdapat bekas nodanya, benda atau bagian tubuh itu sudah dianggap bersih atau suci. Cukup mudah dalam pengaplikasiannya, maka diharapkan muslim tidak menyepelekan najis mukhaffafah ini. Proses pembersihan tidak sesuai prosedur, maka sama dengan tetap bernajis.

2. Najis Mutawassithah (Najis Sedang)

Najis mutawassithah ini dapat disucikan secara tuntas dan lunas, tanpa berbekas apapun yang melekat. Caranya adalah dengan menggunakan air, digosok-gosok menggunakan tanah atau benda lainnya. Menggosok ke tanah dengan tujuan agar najisnya melekat dengan tanah dan akan hilang dengan cepat dari tubuh atau pakaian kita. Pada dasarnya pembersihan najis ini adalah asal tidak ada bekas ataupun tidak ada yang melekat menjadi poin utama.

3. Najis mughallazhah (najis berat)

Najis terberat dalam penggolongan najis menurut agama Islam karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya untuk manusia jika tidak disucikan sesegera mungkin. Pembersihan najis ini adalah dengan mencuci barang atau yang sudah terkena najis sampai 7 kali dengan menggunakan air ataupun air yang dicampur dengan tanah. Sebanyak 7 kali adalah syarat mutlak dan tidak boleh ditawar karena tetap tidak akan diterima ibadah kita tersebut walaupun secara penglihatan mata kita sudah tidak ada kotoran atau najis.

C. Manfaat mensucikan diri dari najis

Manfaat bersuci dari najis sangatlah banyak. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Mendidik Manusia Agar Terbiasa Hidup Bersih Terutama Sewaktu Akan Beribadah.

Kebersihan lahiriah sangat berpengaruh terhadap kebersihan jiwa. Lahiriah yang bersih dan suci akan semakin menambah kekhusyu’an kita dalam berdoa dan beribadah.

READ  6 Manfaat Zakat Fitrah Dalam Kehidupan Manusia

2. Terhindar Dari Penyakit.

Dengan selalu menjaga kebersihan, kita dapat terhindar dari sakit atau virus penyebab penyakit. Ketahuilah bahwa penyebab utama kita sakit adalah tingkat kebersihan diri dan sekitar yang rendah. Maka dari itu, perlu kesadaran tinggi akan kebersihan dan manfaat yang dihasilkan dari kebersihan.

3. Sarana Pendekatan Diri Kepada Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan hadist yang berbunyi ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’. Jadi, separuh dari iman kita ditentukan oleh kebersihan diri dan jiwa kita. Kebersihan diri berkaitan dengan bagaimana cara kita bersuci sedangkan kebersihan jiwa adalah bagaimana kita memandang sesuatu yang ada di sekitar kita, sebagai hal yang menyenangkan atau sebaliknya, hal yang menyedihkan atau mengganggu.

4. Mendidik Manusia Berakhlak Mulia.

Membiasakan diri selalu bersih dari najis dapat berimbas langsung pada akhlak kita. Kita akan menghindarkan diri dari hal-hal kotor dan haram yang telah dilarang agama Islam. Apabila kita sekali terjerumus ke dalam hal-hal kotor yang dilarang agama maka akhlak kitapun juga pasti tercemar. Sedangkan akhlak sendiri berkaitan erat dengan iman dan keberhasilan kita dalam beribadah kepada Sang Pecipta Alam Semesta ini, Allah SWT.

Sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa najis memang kotor dan perlu beberapa cara membersihkannya bila terkena tubuh atau benda sekitar kita. Namun, dengan menjaga diri kita dari najis-najis tersebut haruslah menambah keimanan kita kepada Allah SWT dan menjauhkan diri sejauh mungkin dari hal yang dilarangNya serta dari hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri.