Reproduksi dan Perkembangan Hewan

Reproduksi dan Perkembangan Hewan
5 (100%) 1 vote

Reproduksi Hewan

Kebanyakan hewan adalah organisme diploid, artinya sel tubuh mereka (somatik) diploid dan sel reproduksinya bersifat haploid diproduksi melalui meiosis. Ada beberapa pengecualian: misalnya, pada lebah, tawon, dan semut, jantannya bersifat haploid karena berkembang dari telur yang tidak dibuahi, dan masih ada banyak pengecualian lainnya, bergantung pada spesies hewannya. Namun, rata-rata hewan berkembang dengan konsepsi yang tak jauh beda dari manusia.

Sebagian besar hewan mengalami reproduksi seksual. Fakta ini membedakan hewan dari jamur, protista, dan bakteri. Akan tetapi, beberapa kelompok hewan seperti cnidaria, cacing pipih, dan cacing gelang, menjalani reproduksi aseksual, meskipun hampir semua hewan itu juga memiliki fase seksual dalam siklus hidupnya.

Reproduksi dan Perkembangan Hewan

Selama reproduksi seksual, gamet haploid dari individu jantan dan betina dari suatu spesies bergabung dalam proses yang disebut fertilisasi. Biasanya, sperma jantan yang kecil dan motil membuahi sel telur betina yang jauh lebih besar. Proses ini menghasilkan telur yang dibuahi dan bersifat diploid yaitu zigot.

Beberapa spesies hewan—termasuk bintang laut dan anemon laut, serta beberapa serangga, reptil, dan ikan—mampu melakukan reproduksi aseksual. Bentuk paling umum dari reproduksi aseksual untuk hewan air stasioner yaitu tunas dan fragmentasi, di mana bagian dari individu induk dapat memisahkan dan tumbuh menjadi individu baru (anakannya).

Sebaliknya, bentuk reproduksi aseksual yang ditemukan pada serangga dan vertebrata tertentu disebut partenogenesis, di mana telur yang tidak dibuahi dapat berkembang menjadi keturunan jantan baru. Jenis partenogenesis ini disebut haplodiploidi. Jenis-jenis reproduksi aseksual ini menghasilkan keturunan yang identik secara genetis, yang tidak menguntungkan dari sudut pandang kemampuan adaptasi evolusioner karena potensi penumpukan mutasi yang merusak. Namun, bagi hewan yang terbatas dalam kapasitasnya untuk menarik pasangan, reproduksi aseksual dapat memastikan perbanyakan genetik.

READ  Pengertian Metamorfosis Lengkap

Lalu, apa yang terjadi setelah fertilisasi?

Sumber: courses.lumenlearning.com

Setelah pembuahan, serangkaian tahap perkembangan terjadi, lapisan primer terbentuk dan diatur ulang untuk membentuk embrio. Selama proses ini, jaringan hewan mulai menspesialisasikan diri dan dikelompokkan menjadi organ dan sistem organ, menentukan morfologi dan fisiologi mereka.

Beberapa hewan, seperti belalang dan kecoa, mengalami metamorfosis yang tidak lengkap, di mana yang muda menyerupai yang dewasa—hanya saja lebih kecil. Hewan lain, seperti beberapa serangga, mengalami metamorfosis lengkap di mana individu memasuki satu atau lebih tahap larva yang mungkin berbeda dalam struktur dan fungsi dari yang dewasanya.

Proses perkembangan hewan dimulai dengan pembelahan, atau serangkaian pembelahan sel mitosis, hingga terbentuk zigot. Zigot sel tunggal lantas berubah menjadi suatu struktur dengan delapan sel (morula). Setelah pembelahan sel lebih lanjut dan penataan ulang sel yang ada, struktur berongga 6–32-sel yang disebut blastulaterbentuk. Selanjutnya, blastula mengalami pembelahan sel lebih lanjut dan penataan ulang sel selama proses yang disebut gastrulasi menjadi grastula. Ini mengarah pada pembentukan tahap perkembangan selanjutnya di mana rongga pencernaan akan terbentuk. Lapisan sel yang berbeda (disebut juga sebagai germ layers) terbentuk selama gastrulasi. Lapisan ini diprogram untuk berkembang menjadi tipe jaringan, organ, dan sistem organ tertentu selama proses yang disebut organogenesis.

Tags: